» tagged pages
» logout

(Feed found, click Add Page to syndicate.) Error finding feed, please try again » Find feed title

A Blog Page allows you to add entries, for news or other time sensitive postings

(Login required to save to your tagged pages.)
(or Cancel)

Make further edits, (or Cancel)

(Login required to save to your tagged pages.)
(or Cancel)

(Editing anonymously: to be credited for your changes, login or register a new account)

Change Page Permissions? Changing these permissions will adjust who can modify this page.

Anonymous (change)
Swik Users (change)
(or Cancel)
Upload an image from your computer:
or Copy an image from a URL:
or Erase the current icon:
Icon Preview:

or Cancel

Erase essay? The contents of essay page and all pages directly attached to essay will be erased.

or Cancel

(Editing anonymously: to be credited for your changes, login or register a new account)

other page actions:
essay

essay

Tags Applied to essay

No one has tagged this page.

essay Wiki Pages

What is essay? Edit this page and describe it here.

sorted by: recent | see : popular
Content Tagged essay

2008-09-27 - shi3zã®æ—¥è¨˜

Annotated link http://www.diigo.com/bookmark/http%3A%2F%2Fd.hatena.ne.jp%2Fshi3z%2F20080927

iphone: deli.cio.us/tags/iphone

Stevey's Home Page - Tour de Babel

amazon dot com programmer talks about various languages

Emacs: del.icio.us tag/emacs

Tasawuf Bukanlah Sufisme

Tasawuf serta sufisme terlihat merebak akhir-akhir ini di indonesia, namun bila kita amati dengan lebih seksama akan kita dapati kerancuan dalam pemahaman terhadap arti tasawuf dan arti sufisme yang di anggap sama, juga terdapat kerancuan terhadap arti sufistik, sufisme, filsuf, filosofi dlsb.
Oleh karena itu marilah kita cermati apa dan bagaimana sebenarnya tasawuf dan sufisme serta dimana letak perbedaanya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Nabi SAW. berkata bahwa umur umatku tidak jauh dari umurku, sedangkan pada saat wafat Nabi SAW. adalah berusia 63 tahun, sehingga hal tersebut mengisyaratkan bahwa umur umat Muhammad SAW. berkisar di sekitar 63 tahun saja, sehingga bila ada yg berusia hingga 70-90 tahun merupakan hadiah atau tambahan kesempatan untuk menambah amal ataupun untuk bertobat bagi yang masih berasyik-asyik dengan dunia, disamping itu terdapat pula pendapat yang menyatakan pembagian tiga terhadap standar usia 63 tahun tersebut menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari 21 tahun, ketiga bagian tersebut diterangkan sebagaimana berikut ini:

  • 21 tahun pertama adalah Syariat.
  • 21 tahun kedua adalah Hakikat.
  • 21 tahun ketiga adalah Marifat.

Jadi idealnya dalam kehidupan umat islam seharusnya 21 tahun pertama adalah saat untuk berlomba-lomba mengumpulkan ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu pembeda salah dan benar atau gelap dan terang, serta di tambah ilmu pengetahuan umum yang berguna untuk menunjang modal kehidupan.

Sedangkan 21 tahun kedua adalah saat untuk pencarian kebenaran atau pembuktian dari semua ilmu yang telah didapatkan tersebut diatas, seyogyanya pencarian kebenaran tidaklah menjadikan terhentinya pencarian atau penambahan ilmu, sebab kita senantiasa harus terus belajar dan menambah ilmu selama kematian belumlah menjeput.

21 tahun ketiga baik lebih maupun kurang adalah saat setelah teruji kebenaran dari ilmu yang didapat tersebut, menjadi saat keemasan kehidupan ruhaniah seseorang yang secara umum dapat dikatakan memasuki usia kebijakan (kurang lebih dimulai pada usia 43-50 tahun), yang secara sisi ruhaniah menjadi masa pengenalan terhadap Allah sebagai pemilik segala ilmu serta segala sesuatu yg terkait kepada ilmu tersebut, yang mana keterkaitan tersebut dapat diartikan sebagai pembuatan, sebagaimana Allah dengan ilmunya telah membuat atau menciptakan alam semesta beserta isinya dan yang termasuk didalamnya adalah manusia, yaitu kita.

Dengan demikian maka menjadi jelaslah bahwa kita hanya dapat mengenal dan merasakan keberadaan Allah dengan pengenalan akan kebenaran ilmu serta segala ciptaan Nya, sedangkan kebenaran ilmu Allah kiranya hanya bisa kita dapatkan dari hikmah kehidupan dengan berbekal atau bermodalkan sabar serta tawadhu.

Setelah mengamati ulasan kehidupan yg panjang dan berbelit tersebut di atas maka sampailah kita pada pengenalan dari arti tasawuf yang merupakan ilmu marifat atau ilmu pengenalan terhadap Allah, sedangkan sufisme adalah isme atau dapat juga dikatakan sebagai ilmu untuk menjalani kehidupan sufistik seorang sufi, yang mana diketahui bahwa akhir dari kesufian adalah awal dari kenabian, yang tentu saja menjadikan kesufian dapat di artikan pencarian kesucian yang tertinggi yang menjadi dasar atau awal kenabian, demikianlah bahwa akhir kesufian hanyalah awal kenabian menjadikan setinggi-tinggi nya tingkat kesufian tidaklah dapat mencapai tingkat kenabian.

Sekarang tentunya telah menjadi lebih teranglah perbedaan antara tasawuf dengan sufisme, walaupun sangatlah jelas bahwa sufisme adalah salah satu ilmu atau cara menjalani tasawuf bagi para sufi, sedangkan tasawuf itu sendiri dapat dipelajari atau di amalkan siapa saja yang ingin mencapai tingkat marifatullah dengan cara mencari bukti-bukti kebenaran dari ilmu serta segala sesuatu ciptaan Allah atau yang dikenal dengan merenung sesaat yang dapat menghasilkan pemahaman akan kebenaran ilmu-ilmu Allah dengan imbalan 1000 rakaat shalat, juga dapat dicapai dengan cara mencari hikmah dari setiap permasalahan dalam kehidupan pribadi maupun orang lain dengan berbekal sabar, tawadhu, prasangka baik pada Allah sesuai dengan janji-janji serta ketetapan Allah pada hambanya.

Sedangkan pada kasus kerancuan yang terjadi akibat fisafat islam yang menjadi bahasa umum para sufi yang sedemikian sulit untuk dimengerti orang awam adalah penyebab para sufi di anggap orang yang tidak normal dengan segala cerita keanehan-keanehan kehidupan mereka yang sebetulnya di ceritakan oleh para penganut sufisme dalam bahasa filsafat yang tentu saja tidak mudah dimengerti atau di pahami kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa mendengar istilah-istilah serta kata-kata kiasan yang menyerupai syair atau puisi, atau untuk mudahnya kita harus berfikir untuk mengartikan sebuah kata kias, syair ataupun puisi, sudah barang tentu akan jauh lebih sulit lagi bila kata kias, syair atau puisi itu memakai bahasa fisafat pula, tentu saja akan menjadi sangat rumit untuk mengerti artinya, apalagi untuk menghayatinya.

Sebagai contoh, ada seorang sufi yang pada saat itu terjadi perbantah-bantahan didalam hatinya sedangkan ia sedang berjalan di gurun pasir, sehingga ia berjalan terus di gurun pasir tersebut selama satu tahun tanpa makan dan minum, juga ada seorang sufi yang sedang berpuasa, lalu saat ia sedang menolong seseorang untuk memperbaiki atap rumah ketika ia berada di ujung tangga, si empunya rumah menyuguhkan makanan dan minuman yg terlihat enak dan segar dikarenakan ia sedang berpuasa, sehingga terjadilah juga perbantah-bantahan didalam hatinya sehingga satu tahun atau dua tahun ia berada di atas tangga tersebut, kedua cerita tersebut diatas seakan-akan menceritakan kehebatan atau terlihat begitu saktinya seorang sufi yang mengakibatkan perbedaan pendapat bagi pembaca atau pendengar cerita tersebut, bagi orang yang tertarik supranatural tentu saja ingin mempelajari ilmu kesufian tersebut agar dapat menjadi hebat atau sakti sebagaimana sang sufi yg ia bayangkan kehebatannya, dilain fihak bagi orang yang tidak percaya atau kurang percaya akan hal supranatural atau klenik menjadikan mereka memandang cerita tersebut sebagai suatu kebohongan yang sangat besar, sehingga menjadikan ia memandang sang sufi dan para sufi sebagai pembohong besar.

Disinilah letak kerancuan pendapat awam dalam mengartikan cerita yang di sajikan sebagai cerita, kata kias, syair atau puisi dengan memakai bahasa fisafat islam yang tentu saja sulit untuk dimengerti begitu saja, walaupun sebenarnya dapat saja secara sederhana dicarikan perumpamaannya dalam kehidupan keseharian kita, misalnya kita mempunyai kenalan, baik itu di kantor maupun di mana saja tempat yang sering kita bertemu dengannya sedangkan orang tersebut selalu membuat kita jengkel karena entah itu kelakuannya ataupun cara berbicaranya yang selalu menjengkelkan kita, yang tentu saja semua itu berjalan dalam waktu yang cukup lama ataupun lama sekali akan menjadi ganjalan di hati kita sehingga baru berakhir bila orang tersebut tidak menjengkelkan lagi atau orang tersebut tidak disana lagi atau kita yang sudah tidak disana lagi, tentu saja kita tidak dapat memprediksi berapa lama ganjalan tersebut akan mengganggu kita bisa satu minggu, satu bulan, satu tahun bahkan mungkin saja sepuluh tahun, ganjalan di hati kita tersebut dapat kita perumpamakan sebagai perbantah-bantahan yang terjadi di hati sang sufi tersebut, tentu saja baik kita maupun sang sufi tersebut, secara kenyataannya tidak berdiam di tempat tersebut atau pun berhadapan dengan orang tersebut selama waktu masih terjadi ganjalan atau selama terjadi perbantah-bantahan tersebut, melainkan baik kita maupun sang sufi tersebut tetap melaksanakan kegiatan kita sehari-hari seperti biasanya, walaupun ada ganjalan di hati kita maupun perbantah-bantahan di hati sang sufi tersebut.

Memandang kasus tersebut di atas maka menjadi jelaslah bagi kita, bahwa sebenarnya tidaklah ada suatu keanehan dalam kehidupan seorang sufi, melainkan sama saja dengan kehidupan kita sehari-hari, yang berbeda hanya masalah cara hidup saja, kehidupan seorang sufi, sama saja dengan seorang guru agama (ustadz), da’i atau ulama secara umum, hanya saja biasanya mereka berusaha untuk selalu menjaga pandang, wudlu juga fikirannya, demi tercapainnya kesucian tertinggi yang dapat dicapai manusia.

Dengan demikian, maka baik ganjalan hati ataupun perbantah-bantahan hati hanyalah suatu bentuk kemacetan , stuck atau terhentinya salah satu proses ruhaniah kita dalam jangka waktu tertentu, yang di perumpamakan seakan-akan waktu terhenti sedangkan diri tetap berjalan atau diri terhenti sedangkan waktu terus berjalan, dan lain sebagainya perumpamaan.

Mungkin contoh kematian yang secara umum ditakuti dapat menjadi contoh yang lebih mudah dimengerti, misalkan pada suatu sore hari, kita sedang memotong rumput di halaman rumah, selagi asyik memotong rumput tiba-tiba kita teringat akan kematian yang sangat menyakitkan sakratul mautnya sehingga kita menjadi takut akan kematian yang pasti datang itu, maka selama kita takut akan kematian tersebut selama itulah pengetahuan ruhanian tentang kematian kita terhenti, seakan-akan bila ingat soal kematian kita ingat saat pertamakali takut itu datang di taman rumah kita tersebut, walaupun keruhanian kita selain tentang kematian terus berjalan, baik itu belajar agama ataupun segala peribadahan kita tetap berjalan seperti biasanya, juga kegiatan kita sehari-hari tetap berjalan normal seperti biasanya, namun selama kita masih takut akan kematian tersebut, selama itu pula pemikiran kita tentang kematian tetap tertahan di taman tersebut, sehingga waktu seakan-akan berhenti untuk masalah kematian tersebut, walaupun kegiatan kita berjalan normal seperti biasanya, pada suatu hari, tiga tahun setelah masalah di taman itu, bertemulah kita dengan seseorang yang memberi tahukan bahwa tiada rasa sakit, walaupun hanya sebiji zarah kecuali akan ditambahkan kemuliaan baginya, sehingga dengan pengetahuan ini kita menyadari bahwa sakratul maut yang super sakit itu dapat ditukarkan menjadi super mulia, yang merupakan kesempatan terakhir atau tambahan yang sangat menguntungkan, yang diberikan Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hambanya, berkah ini tentu saja menghapus ketakutan kita kepada sakratul maut, sehingga kematian bukan lagi merupakan hal yang menakutkan, dengan demikian hilanglah sudah kemacetan ruhaniah akan kematian tersebut, setelah tiga tahun membebani kita, kejadian tersebut dapat diperumpamakan semenjak sore tersebut kita terus mencabuti rumput selama tiga tahun tanpa makan dan minum, tanpa makan dan minum ini dapat diartikan selama tiga tahun kita tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah ketakutan tersebut.

Tentu saja jika kita menceriterakan kepada banyak orang, bahwa kita mencabuti rumput tanpa makan dan minum selama tiga tahun dikarenakan takut akan kematian, diantara mereka akan ada yang mengatakan kita pembohong besar, sedangkan diantara yang lainnya ada yang akan menganggap kita orang yang sangat sakti, padahal kita hanya orang biasa saja.

Sumber : http://www.geocities.com/seebayu/tas.html

User:achmad: Achmad Access Center

Resep Pizza Hut Lengkap

Dari hidangan Pembuka hingga Pencuci Mulut :

Book 1:4703338.pdf

  1. Easy Pizza Dough Recipe
  2. Caramelized Onion Pizza
  3. BBQ Chicken Pizza
  4. Pizza “Pie”
  5. Broccoli and Red Pepper Pizza
  6. Mushroom and Garlic-Bacon Pizza
  7. Super Fast Pizza


Pizza Sauce :

  1. Cooked Pizza Sauce
  2. Basic Garden Sauce
  3. Italian Pizza Sauce
  4. Basic Pizza Sauce

Book 2:4592826.pdf

  1. Pizza Hut Pizza Sauce
  2. Pizza hut Dough
  3. ‘Pizza Hut’ style Pizza Dough
  4. Barbecue Spareribs

Book 3:4605252.pdf

  • CHIFFON CHEESECAKE
  • CLASSIC CHIFFON CHEESECAKE
  • ORANGE CHIFFON CHEESECAKE
  • BLUEBERRY CHIFFON CHEESECAKE
  • BANANA CHIFFON CAKE
  • BANANA-NUT CHIFFON CAKE
  • BANANA ORANGE CHIFFON CAKE
  • CHOCOLATE CHIFFON CAKE
  • CHIFFON REFRIGERATOR CAKE
  • COCOA CHIFFON CAKE
  • MARBLE CHIFFON CAKE
  • CHOCOLATE GLAZE
  • WALNUT CHIFFON CAKE
  • COCONUT CHIFFON CAKE
  • COCONUT CHIFFON CUPCAKES
  • CHOCOLATE MARBLE CAKE
  • CHOCOLATE MARBLE CHEESE CAKE
  • LOVE CAKE
  • PEANUT-CHIP MARBLE CAKE
  • MARBLE ICE CREAM CAKE
  • FRENCH MARBLE CAKE
  • DELUXE MARBLE CAKE
  • DUTCH MARBLE CAKE
  • PEANUT BUTTER CHIFFON CAKE
  • BLACK FOREST CAKE
  • BLACK FOREST CHEESE CAKE
  • CHOCOLATE JELLY ROLL
  • CHOCOLATE ROLLS
  • CHOCOLATE REFRIGERATOR ROLL
  • CHOCOLATE CAKE ROLL/SAUCE
  • CHOCOLATE CUSTARD SAUCE
  • CHOCOLATE CAKE ROLL
  • CHOCOLATE MINT JELLY ROLL
  • CHOCOLATE FUDGE ROLL CAKE
  • CHOCOLATE NUT ROLL
  • CHOCOLATE SPONGE ROLL
  • CHOCOLATE MOCHA CREME ROLL
  • CHOCOLATE CINNAMON ROLLS
  • CHOCOLATE BANANA SNACK CAKE
  • CHOCOLATE PEANUT BUTTER SQUARES
  • CHOCOLATE CUPCAKES
  • CHOCOLATE CHEESECAKE CUPCAKES
  • MOCHA CUPCAKES
  • LEMON MERINGUE CAKE
  • BANANA MERINGUE CAKE
  • WHITE-CHOCOLATE ROCKY ROAD
  • ROCKY ROAD CAKE
  • CHOCOLATE ROCKY ROAD CAKE
  • ROYAL ICING
  • CHOCOLATE MINT JELLY ROLL
  • JELLY ROLL
  • CHOCOLATE SPONGE ROLL
  • ICE CREAM CAKE
  • CHOCOLATE CARAMEL CAKE
  • CHOCOLATE CARAMEL NUT CAKE
  • MRS. SPIRER’S CHOCOLATE CAKE ICING
  • COFFEE CAKE MUFFINS
  • CHOCOLATE PARTY CAKE ICING
  • DEEP DARK CHOCOLATE CAKE WITH ICING

User:achmad: Achmad Access Center

Ilmu Laduni, Antara Hakikat dan Khurafat

Manusia dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah “Ilmu Laduni” artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat-Nya pun berkata:

“Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32)

Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy). Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).

Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua macam:

1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir:

“Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam:

“Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga.”

Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.

2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

Bagian Kedua

Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.

Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.

Khurafat Shufi

Istilah “ilmu laduni” secara khusus tadi telah terkontaminasi (tercemari) oleh virus khurafat shufiyyah. Sekelompok shufi mengatakan bahwa:

  1. “Ilmu laduni” atau kasyf adalah ilmu yang khusus diberikan oleh Allah kepada para wali shufi. Kelompok selain mereka, lebih-lebih ahli hadits(sunnah), tidak bisa mendapatkannya.
  2. “Ilmu laduni” atau ilmu hakikat lebih utama daripada ilmu wahyu (syari’at). Mereka mendasarkan hal itu kepada kisah Nabi Khidlir alaihissalam dengan anggapan bahwa ilmu Nabi Musa alaihissalam adalah ilmu wahyu sedangkan ilmu Nabi Khidhir alaihissalam adalah ilmu kasyf (hakikat). Sampai-sampai Abu Yazid Al-Busthami (261 H.) mengatakan: “Seorang yang alim itu bukanlah orang yang menghapal dari kitab, maka jika ia lupa apa yang ia hapal ia menjadi bodoh, akan tetapi seorang alim adalah orang yang mengambil ilmunya dari Tuhannya di waktu kapan saja ia suka tanpa hapalan dan tanpa belajar. Inilah ilmu Rabbany.”
  3. Ilmu syari’at (Al-Qur’an dan As-Sunnah) itu merupakan hijab (penghalang) bagi seorang hamba untuk bisa sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  4. Dengan ilmu laduni saja sudah cukup, tidak perlu lagi kepada ilmu wahyu, sehingga mereka menulis banyak kitab dengan metode kasyf, langsung didikte dan diajari langsung oleh Allah, yang wajib diyakini kebenarannya. Seperti Abd. Karim Al-Jiliy mengarang kitab Al-Insanul Kamil fi Ma’rifatil Awakhir wal Awail. Dan Ibnu Arabi (638 H) menulis kitab Al-Futuhatul Makkiyyah.
  5. Untuk menafsiri ayat atau untuk mengatakan derajat hadits tidak perlu melalui metode isnad (riwayat), namun cukup dengan kasyf sehingga terkenal ungkapan di kalangan mereka
    “Hatiku memberitahu aku dari Tuhanku.” Atau
    “Aku diberitahu oleh Tuhanku dari diri-Nya sendiri, langsung tanpa perantara apapun.”

Sehingga akibatnya banyak hadits palsu menurut ahli hadits, dishahihkan oleh ahli kasyf (tasawwuf) atau sebaliknya. Dari sini kita bisa mengetahui mengapa ahli hadits (sunnah) tidak pernah bertemu dengan ahli kasyf (tasawwuf).

Bantahan Singkat Terhadap Kesesatan di atas

  1. Kasyf atau ilham tidak hanya milik ahli tasawwuf. Setiap orang mukmin yang shalih berpotensi untuk dimulyakan oleh Allah dengan ilham. Abu Bakar radhiallahu anhu diilhami oleh Allah bahwa anak yang sedang dikandung oleh isterinya (sebelum beliau wafat) adalah wanita. Dan ternyata ilham beliau (menurut sebuah riwayat berdasarkan mimpi) menjadi kenyataan. Ibnu Abdus Salam mengatakan bahwa ilham atau ilmu Ilahi itu termasuk sebagian balasan amal shalih yang diberikan Allah di dunia ini. Jadi tidak ada dalil pengkhususan dengan kelompok tertentu, bahkan dalilnya bersifat umum, seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam:
    “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang ia ketahui, maka Allah mewariskan kepadanya ilmu yang belum ia ketahui.” (Al-Iraqy berkata: HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah dari Anas radhiallahu anhu, hadits dhaif).
  2. Yang benar menurut Ahlusunnah wal Jama’ah adalah Nabi Khidhir alaihissalam memiliki syari’at tersendiri sebagaimana Nabi Musa alaihissalam. Bahkan Ahlussunnah sepakat kalau Nabi Musa alaihissalam lebih utama daripada Nabi Khidhir alaihissalam karena Nabi Musa alaihissalam termasuk Ulul ‘Azmi (lima Nabi yang memiliki keteguhan hati dan kesabaran yang tinggi, yaitu Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad).Adapun pernyataan Abu Yazid, maka itu adalah suatu kesalahan yang nyata karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam hanya mewariskan ilmu syari’at (ilmu wahyu), Al-Qur’an dan As-Sunnah. Nabi mengatakan bahwa para ulama yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itulah pewarisnya, sedangkan anggapan ada orang selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam yang mengambil ilmu langsung dari Allah kapan saja ia suka, maka ini adalah khurafat sufiyyah.
  3. Anggapan bahwa ilmu syari’at itu hijab adalah sebuah kekufuran, sebuah tipu daya syetan untuk merusak Islam. Karena itu, tasawwuf adalah gudangnya kegelapan dan kesesatan. Sungguh sebuah sukses besar bagi iblis dalam memalingkan mereka dari cahaya Islam.
  4. Anggapan bahwa dengan “ilmu laduni” sudah cukup adalah kebodohan dan kekufuran. Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir Al-Jailani mengatakan: “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”
  5. Inilah penyebab lain bagi kesesatan tasawwuf. Banyak sekali kesyirikan dan kebid’ahan dalam tasawwuf yang didasarkan kepada hadits-hadits palsu. Dan ini pula yang menyebabkan orang-orang sufi dengan mudah dapat mendatangkan dalil dalam setiap masalah karena mereka menggunakan metode tafsir bathin dan metode kasyf dalam menilai hadits, dua metode bid’ah yang menyesatkan.

Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda:

“Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, Al-Bazzar dan Abu Nu’aim, hadits hasan). (Abu Hamzah As-Sanuwi).

Maraji’:

  1. Al-Fathur Rabbaniy, Abdul Qadir Al-Jailani (hal. 159, 143, 232).
  2. Al-Fatawa Al-Haditsiyah, Al-Haitamiy (hal. 128, 285, 311).
  3. Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali (jilid 3/22-23) dan (jilid 1/71).
  4. At-Tasawwuf, Muhammad Fihr Shaqfah (hal. 26, 125, 186, 227).
  5. Fathul Bariy, Ibnu Hajar Al-Asqalaniy (I/141, 167).
  6. Fiqhut Tasawwuf, Ibnu Taimiah (218).
  7. Mawaqif Ahlusunnah, Utsman Ali Hasan (60, 76).
  8. Al-Hawi, Suyuthiy (2/197).

Sumber : Media Muslim

User:achmad: Achmad Access Center

Page 1 | Next >>
Username:
Password:
(or Cancel)